>
Membaca jaman dari si Venus Dolores Haze : Membaca jaman dari si Venus

Future Machine

Sunday, July 15, 2012

Membaca jaman dari si Venus


Cewek itu Venus, Cowok itu Mars. Kok bisa sih?

  Dalam Mitologi Yunani, Venus adalah dewi cinta dan kecantikan. Tapi, ini saatnya melihat kaum hawa tidak hanya dari kecantikannya saja. Mereka memiliki banyak cerita, rasa, dan karya yg perlu kita kenal.
  Sedangkan Mars adalah dewa perang perkasa yg bernama Ares. Dalam kepercayaan Romawi, Mars digambarin sebagai dewa kesuburan dan dewa tumbuhan. Dua penggambaran yg kontras, tapi cukup mencerminkan kaum laki-laki yg memiliki sisi lembut dibalik keperkasaannya.


  Bahkan, saat ini internet tidak lagi hanya didominasi oleh para geek. Sosial media kayak Facebook ato Twitter jadi salah satu 'trigger' pagi para newbie untuk mengenal internet. Internet juga udah jadi hal yg nggak terpisahkan dari kehidupan tiap orang. Well, kita semua jadi menjelajah segala hal dari seluruh dunia. Tak terkecuali perempuan. Pada tahun 2011 kemaren, sekitar 46% pengguna internet di seluruh dunia didominasi oleh perempuan.
  Ada yg selalu berbeda dari Perempuan sama Laki-laki, termasuk di Internet. Perempuan lebih suka bersosialisasi, berkomunitas, berkreasi, dll. Bahkan perempuan juga cenderung mengikuti dan memperhatikan topik yg berhubungan erat sama perempuan. Sedangkan laki-laki lebih cenderung tertarik sama games, pengetahuan, berita, forum, jual-beli, dsb.
  Ternyata, membaca jaman itu nggak cuma diliat dari perkembangan internet, tapi juga tubuh cewek lho!

Nah, kok bisa tuh?  

  Nggak cuma sebatas fisik, bentuk tubuh perempuan itu ternyata nyimpen banyak hal menarik, termasuk jadi penanda untuk "membaca" keinginan perempuan di sepanjang zaman, haha :P
  Sepanjang abad aja tren tubuh perempuan itu berubah-ubah. Montok, berisi, kurus, langsing, dan bentuk-bentuk itulah akan slalu berulang.
  Tau korset? Cewek yg pake korset pengen tubuhnya jadi kayak jam pasir gitu, nah korset itu udah jadi tren sejak jaman Victoria. Semakin ketat, semakin seksi, biarpun harus merasakan sakit pada organ internal. Yaiyalah, diiket ketat bgt kok.

Yes, beauty is pain....
   Hal itu berlaku juga buat cewek di jaman sekarang. Di negri Korea sendiri, banyak gadis yg suka mengoperasi wajah dan melebarkan mata mereka. Contoh realnya bisa kalian liat sendiri fisik para girlsband asal sana. Kisah cewek Korea selengkapnya bisa kamu baca DISINI.

  Di abad 17, tubuh berisi itu malah jadi tren, soalnya dianggep melambangkan kemakmuran sama kesuburan.
  Di awal abad 20, sosok perempuan justru keliatan lebih tomboy sama atletis, plus rambut pendek dan dada yg diratakan. Nah lho, soalnya perempuan jaman itu banyak ngiket payudara mereka supaya rata, sampe-sampe ada operasi pengurangan payudara juga. Ck!
  Di tahun 50an, tubuh montok yg jadi tren kayak Marylin Monroe itu~
  Di tahun 60an, tubuh kurus yg jadi tren kayak Twiggy. Pemberdayaan perempuan mulai berjaya. Perempuan kembali terjun ke dunia bekerja (keras).
  Di tahun 80an, justru ironis, sosok tubuh ideal mengacu sama Barbie. Desain tubuh Barbie emang impossible banget klo diwujudin di dunia nyata.
  Di tahun 90an hingga abad 21 saat ini, tubuh ideal lebih mengacu sama artis-artis. Di jaman saat inilah perempuan slalu labil klo pengen bentuk tubuh ideal. Ada yg pengen kurus, ada yg pengen gendut (aku!), ada yg pengen kayak jam pasir, dsb~ Kelebihan berat badan aja kadang jadi masalah besar buat perempuan. Jangan heran kalau kaum cewek sering iri liat tubuh cewek lain yg lebih bohay. Tren jaman sekarang emang yg paling ironis.


  Buat perempuan yg obsesif, operasi plastik atau diet ketat pun jadi solusi. Padahal sih ya selama kita sehat sama nyaman sama tubuh sendiri sebenernya itu pilihan terbaik sih.
  Toh, dari sejarahnya aja dapat disimpulin kalau trend itu emang cuma berputar-putar aja kan?
  Sebagai kaum perempuan, aku kurang setuju kalau perempuan itu identik sama makhluk lemah lembut dan rapuh. Perempuan juga bisa jadi makhluk tangguh dan mendominasi. Udah dari jama dulu banyak perempuan yg jadi tokoh-tokoh dunia. Kalau nggak ada perempuan, dunia ini bakal jadi apa? 

  Well, itu pendapatku mengenai pembacaan jaman. Aku nggak perlu pro-kontra, karena ini cuma opiniku doank.
  Ada saran/kritik? Monggo share di comment ;)


Based from : "MyMagz" Magazine
Edisi Mei 2012
dengan perubahan seperlunya



That's all, thanks
With Love,
 

4 bird(s):

Wenny Widyastuti said...

Kalo abad 18an di eropa kayaknya perut dibikin sekecil mungkin gituya (?) kasian yg pake korset sih tapi aku kadang juga pake karena kepengin (?)

nonasan said...

yoooh setuju!
aku juga termasuk yang mau gemuk tapi blm bisa bisa T_____Tv

Adhella Subalie said...

u,u pengen balik ke abad 17 deh -,- aku ini badannya agak 'makmur' kurang ngenes apa coba?! *-_-*

nuel said...

Sori yah... Menurut gue, perempuan tuh kaum yang paling sering excuse ketimbang cowok... Contohnya, di bus... Suka marah2 sendiri2 kalau ada cowok yang gak kasih tempat duduk ke wanita. Gak gentle lha, katanya... Padahal emansipasi mereka duluan yang mulai, plus setau gue, yang harus dikasih tempat duduk itu ibu hamil, cacat, sama lansia.... Nah! Gak ada alasan dong buat kasih tempat duduk ke wanita.... Kan setara.... Hehehe

Soal beautiful is vain gak setuju. Cantik/jelek itu relatif, yah walau cewek yang nggak gendut itu jauh lebih good looking kok...

 
© Copyright 2009 by Patricia Krisnashanti l Jurnal Patricia l All rights reserved